Label

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Noktah di Musin Senja



#1
Gadis menyingsing malam di lengannya yang berbalut penantian. Kelopak matanya yang pudar ditelan sepi masih setia bergantungan di ufuk. Ia tengadahkan dzikir-dzikir rindu kepada jingga yang mengabu nun di langit biru. Gadis berkerudung gamang, ingin pulang seperti petang.

#2
Lelaki di musim senja, Rindu pulang ke tempat ia bercengkrama dengan duka diiringi suka. Mendengar desah angin barat yang mendayu di pundaknya. Memantau kepulangan greja, pipit, juga sekawanan itik usai melepas dahaga. Ia rindu perempuan berbalut sepi di sudut rumahnya, meninabobokkan anaknya yang tak sempat berceloteh tentang kehangatan dalam dekapnya.

#3
Perempuan itu duduk bersila, merenda senja di dadanya. benang-benang rupa warna ia jalin sedemikian rupa meskipun matanya mulai menua. benang-benang bercorak suka, duka, pertikaian, amarah, impian, dan cinta, membentuk dunia yang juga terlihat menua. Ia mendesah, masihkah ia merenda senja esok hari?

*Batanghari, Maret 2012*

Selasa, 18 Oktober 2011

BIANGLALA UNTUK NANA


BIANGLALA UNTUK NANA


Terbingkai sajak bercorak bianglala
ketika bait demi bait aksara hidup pada ruang tak bersekat
lalui merah yang menyeruakkan labirin mimpi
lewat kuning yang berjejalan dalam tafsir hidup yang berbirahi
pun hijaunya hijau terbentang di tepian nurani
tuju timbunan biru yang melesap hingga ke titik nadir
: Di sana lautan kata menggali makna

(Batanghari, 19 September 2011)

INI NEGERI KITA BUNG!


INI NEGERI KITA BUNG!

Ini negeri sejuta mimpi
lewat seni pun tiruan dan turunannya orang tiada jadi berada
tak mesti anak pejabat atau berdarah biru
pintar sekelas Plato atau Aristoteles tak perlu

ini negeri dengan tangan terbuka
segepok uang bisa beli kasta
pintar kecil-kecilan mampu surgakan dunia
salah benar bentuknya sama saja

1945 bung kita merdeka. 2011 kita masih porak-poranda
orang miskin, anak telantar, pengangguran, saban hari dibicarakan
nihil penyelesaian
Century sudah dimuseumkan
Lapindo apa lagi, jadi kamus tempo doeloe
TKI pulang kampung gotong keranda sendiri
Pak Jabat lobi sana, koar sini, umbar janji
macet dan banjir saja bikin pusing pejabat
pantas negara tetangga giat merapat

Entah sejak kapan ada darah pencuri, bung
koruptor hebat gelar anak negeri
penegak hukum kena jerat hukum
para menteri reunian di bui

Adanya di sini
negeri kita bung!

(Jambi, April 2011)

SELASAR ZAMAN


“SELASAR ZAMAN”

Di selasar zaman tangan tak lagi menengadah. Barat Timur tak pula berbeda sebab matahari lupakan waktu. Seruan Tuhan tak lagi dikumandangkan hingga pagi ke pagi yang silih berganti. Tuhan tak lagi dicari sebab diri dirasa berkendali.
Di selasar zaman, pesolek renta mempercantik diri, pernak-pernik memenuhi lekukan tubuh, gelamor sonsong zaman. Poles keriput berbedak menor. Tua jadi symbol kemegahan menua.

(Jambi, 18 Agustus 2011).

DOA PUTIH RAMADHAN


DOA PUTIH RAMADHAN
Oleh Ade Batari

Timbunan dosa berjenjang pada ruh nan dina. mukadimah alfa tak kunjung usai, terlafal fasih di singgasana waktu
Sajadah magfiroh kembali, singkap tabir Ramadhan yang gelisah dalam cadar, membahana dalam dzikir panjang.Cahaya Ramadhan menembus relung khalbu seperti hembusan angin di Sawarna, mengkristalkan segudang ampunan dari langit. Arasy balik catatan, perbaharui tumpahan khilaf. Khilaf melebur dalam doa dan derai
Hawa nafsu mata, tangan, mulut, telinga, kaki, hati, jiwa, dibungkam. Tatap takdis pada lanskap Ramadhan. Nuzul Quran, Lailtul Khadar, bersahadat. Mengaung di jagat.
Doadoa putih ramadhan bertalu, bersama takbir jiwa yang rindu
(Batanghari, Juli 2011)


Kamis, 06 Oktober 2011

MAMINANG NAGARI


MAMINANG NAGARI
Oleh: Ade Batari

Junjung Sirih memangku janji, janji anak rantau maminang nagari. Rumah Gadang terkenang, penuntun jalan pulang, silsilahkan oase Minanga Kabwa masa silam. Riak singkarak serunaikan rindu nagari yang terkembang. Hamparan padi meliuk di petak-petak ranah Minang, hijau lalu menguning bak selendang mayang menghidangkan bianglala senyuman. Tanahtanah agam memutari singgalang, mengembun susuri putih hati anak-anak nagari. Tuju jiwa nan sati.
(Batanghari, 24 September 2011)