Minggu, 03 Juni 2012
Rainbow Geeks: Rainbow Arcs
Rainbow Geeks: Rainbow Arcs: Have you ever wondered why the rainbow arcs? Well wonder no more! Read all about it here :)
Rabu, 21 Maret 2012
Noktah di Musin Senja
#1
Gadis menyingsing malam
di lengannya yang berbalut penantian. Kelopak matanya yang pudar ditelan sepi
masih setia bergantungan di ufuk. Ia tengadahkan dzikir-dzikir rindu kepada
jingga yang mengabu nun di langit biru. Gadis berkerudung gamang, ingin pulang
seperti petang.
#2
Lelaki di musim senja, Rindu
pulang ke tempat ia bercengkrama dengan duka diiringi suka. Mendengar desah
angin barat yang mendayu di pundaknya. Memantau kepulangan greja, pipit, juga
sekawanan itik usai melepas dahaga. Ia rindu perempuan berbalut sepi di sudut
rumahnya, meninabobokkan anaknya yang tak sempat berceloteh tentang kehangatan
dalam dekapnya.
#3
Perempuan itu duduk
bersila, merenda senja di dadanya. benang-benang rupa warna ia jalin sedemikian
rupa meskipun matanya mulai menua. benang-benang bercorak suka, duka,
pertikaian, amarah, impian, dan cinta, membentuk dunia yang juga terlihat
menua. Ia mendesah, masihkah ia merenda senja esok hari?
Senin, 23 Januari 2012
Rona Batang Hari
"RONA
BATANG HARI"
Oleh: Ade Batari
Senja bermuram durja. Siluetnya
ranum bagai bidadari kehilangan selendang. Begitupun orang-orang di seputaran
sungai Batang Hari. Agaknya mereka lebih suka bermenung ria di depan rumah
mereka masing-masing, melepas penat setelah seharian bekerja. Anak-anak bermain
dengan cerianya, sepanjang petang yang tengah membuka pintu malam. Suara
lantunan ayat suci al-Quran terdengar nyaring dari Masjid dan Langgar, pertanda
adzan Maghrib sebentar lagi akan dikumandangkan.
“Seorang wanita kesurupan.”
Kata-kata itu memecah ketenangan, lambat laun laris manis terdengar. Diperbincangkan
sebagai berita utama. Baik disampaikan dengan bisik-bisik atau pun leluasa.
“Ia kerasukan Hantu Aek,” salah
seorang mengatakan demikian, menambah panik warga sekitar. Para ibu bergegas
merangkul anak-anak mereka, masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu
rapat-rapat.
“Tadi sore Adik saya mandi di laut
sepulangnya dari berjualan di pasar, tidak hanya mandi ia juga mencuci piring
padahal sedang adzan, tapi ia tidak mengindahkan.” Kulub menjelaskan pada
beberapa orang warga yang menjenguk adiknya selepas Maghrib.
Perempuan itu menangis, ketawa,
lalu menangis. Sesekali ia melolong bagai srigala, memekik mengerikan. Semakin
kuat pekikannya semakin kuat pula para remaja melantunkan ayat-ayat suci
Al-Quran. Para tokoh desa tidak bisa berbuat banyak berhubung dukun yang ahli
kesurupan Hantu Aek tinggalnya jauh di seberang, jadinya hanya diobati oleh seorang
warga yang disepuhkan.
Rupanya ratu Hantu Aek semakin
garang, ia tidak hanya berteriak, menangis dan tertawa tetapi juga mengamuk
minta dilepaskan. Sekua-kuatnya tangan lelaki menahan, sekuat itu pula tenaga
gadis yang dirasuki Hantu Aek itu meronta. Keringat bercucuran dari para lelaki
yang kehilangan cara menenangkan Hantu Aek. Para remaja tidak bisa berbuat
banyak. Mereka sesekali berbisik lalu sibuk lagi mengaji sampai malam semakin
kelam, hingga satu-persatu dari mereka berangsur pulang.
Dukun dari seberang berhasil
didatangkan, secepatnya ia menginjakkan kaki ke rumah panggung yang kini ramai
ditunggui para lelaki. Beberapa mantera ia bacakan dan berdialog dengan Hantu
Aek. Jempolnya ia tekankan kuat-kuat ke sela antara jari telunjuk dan ibu jari
tangan, juga ibu jari kaki gadis yang kesurupan itu, si gadis pun tergolek
lemah lalu tertidur.
Selama dua hari rumah mereka
didatangi para tetangga yang bersedia bergantian menunggui si gadis. Bila malam
tiba acara ronda pun semakin ramai. Berdasarkan kesaksian sang dukun, Hantu Aek
marah kepada si gadis karena telah membutakan mata anaknya, akibat terkena
siraman air cabe dari piring si gadis. Hantu Aek ingin menuntut balas dan akan
membawa si gadis ke tempatnya. Nyawa di balas nyawa itulah prinsip Hantu Aek
yang disebutkan oleh orang-orang pinggiran sungai.
Malam berikutnya si gadis kembali
meronta, lengkingan suaranya lebih kuat dari malam kemarin. Para remaja tidak
ada yang berani datang untuk mengaji. Mereka lebih memilih duduk di rumah dan mendengar
cerita dari tetangga.
Terjadi perbincangan sengit antara
si Hantu Aek dengan sang dukun, tidak ada yang tahu pasti isi perbincangan
tersebut karena mereka hanya berdua dan menggunakan bahasa yang sulit
dimengerti. Bukan bahasa Melayu Jambi. Kata sepakat pun didapat antara dukun
dan Hantu Aek, membuat ia benar-benar pergi dari tubuh si gadis.
Hari-hari dijalani seperti biasa
oleh warga seputaran sungai Batang Hari, tidak lagi terdengar ada yang
kesurupan. Semua orang memilih lebih berhati-hati untuk tidak melakukan aktifitas
ketika senja, berhubung Hantu Aek keluar dari persembunyiannya ketika matahari
tengah melepas cahaya jingganya. Mereka memilih mandi lebih awal dan
berombongan.
Berhubung air PAM belum masuk ke
rumah-rumah warga, satu-satunya yang menjadi sumber kehidupan adalah sungai
Batang Hari, yang luasnya membentang sepanjang 800 KM itu. Air Batang Hari
tampak jernih, beberapa batu karang terhampar di sisi-sisinya, tepiannya
dipenuhi pasir dan kerikil. Sungai ini adalah sungai satu-satunya kebanggan
rakyat Jambi dan merupakan mata air utama bagi penduduk. Tak heran banyak
jamban dibangun di tepian untuk MCK warga.
Ketenangan itu rupanya tidak
berangsur lama. Lagi-lagi orang membicarakan Hantu Aek.
“Anak Pak Bedul hilang setelah
mandi di sungai tadi siang,” kata salah seorang warga setempat memberi
informasi kepada warga yang lain.
Berbondong-bondonglah orang-orang
berdatangan ke bawah Jembatan Gantung. Jembatan satu-satunya yang ada di
kabupaten Batanghari untuk melihat kejadian. Di kampung ini belum mengenal adanya
Tim SAR jadi pencarian dilakukan secara manual dengan berenang. Ada beberapa
orang yang terjun ke sungai mengaduk-aduk sungai dan berenang ke sana kemari
mencari si korban. Terlihat keluarga si anak tengah menangis sembari menunggu
dengan penuh harap.
“Sepertinya anak pak Bedul itu
disukai oleh Hantu Aek makanya ia mengambil dan membawanya ke istana Hantu Aek,
mayatnya saja tidak diketemukan, kasihan anak itu masih terlalu muda.” Kisah
seorang warga.
Pencarian dilanjutkan lagi ke esok
harinya, alhasil pencarian berhasil. Anak itu terbujur kaku ditemukan
menyangkut di bawah jerambah tempat ia mandi. Isak tangis terdengar dari
keluarga si anak.
Menurut kepercayaan, orang yang
meninggal di sungai, apa lagi karena ditangkap oleh Hantu Aek maka ia mesti
dikubur di Makam Keramat. Makam tersebut cukup jauh dari perkampungan, berada
di tengah hutan. Untuk menempuhnya mesti berjalan kaki menyusuri kebun sawit,
kebun salak dan kebun karet, juga semak belukar.
Konon penghuni pertama kuburan ini
dihanyutkan menggunakan perahu dari negeri antah berantah dan diketemukan warga
ketika mayatnya menyangkut di seputaran sungai dekat tempat kuburan itu dibuat.
Tubuh orang tersebut sangat tinggi melebihi tinggi orang kebanyakan. Selang
beberapa lama dikuburkan, batu nisan kuburannya yang dahulunya kayu berubah
menjadi batu, keras dan licin serta berlumut sepintas masih mirip kayu. Makanya
ia dikeramatkan dan dinamai sebagai Si Keramat oleh warga sekitar. Banyak
orang-orang datang ke sana mengambil lumutnya karena dipercaya air lumut batu
nisan Si Keramat dapat membuat anak pintar. Dan tidak jarang pula para lelaki
ke sana bertapa meminta nomor togel supaya menang taruhan.
Malam setelah si bocah dikuburkan,
dukun didatangkan untuk menolong warga dari mara bahaya Hantu Aek dan meminta
dukun membacakan doa Tolak Bala. Pas tengah malam dukun dan sesepuh warga
menggelar ritual, membawa ayam hitam, kemenyan, sabut enau, dan perlengkapan
ritual lainnya. Darah ayam hitam ditabur di sekitar rumah Hantu Aek yaitu di
dekat lubang sisi kanan Jembatan Gantung yang sudah tidak digunakan lagi.
Kemudian sabut enau diikatkan dengan karung menggunakan tali di bawah Jembatan.
Cara itu dipercaya bisa mengusir Hantu Aek agar tidak lagi mengganggu warga
seputaran Jembatan Gantung
Mitos tentang Hantu Aek
berangsur-angsur mulai hilang, seiring dengan perkembangan zaman.
NB:
> HANTU AEK = HANTU AIR
> HANTU AEK = HANTU AIR
Gank Hancur
GENG
HANCUR
Aku dan keempat sahabatku tengah
cemas menunggu nomor urut kami dibacakan panitia. Dengan jantung berdebar kayak
beduk Magrib, nomor peserta itu pun jatuh kepada kami. Aku dan keempat
sahabatku maju malu-malu. Atik yang jadi penyanyi dan sisanya kami berempat jadi
penari latar. Sebelumnya kami tak pernah latihan karena letak rumah kami yang
berjauhan. Padahal dalam lomba ini, tiga penyanyi dan penari latar terpilih
bakal manggung di pentas saat pelaksanaan Bazar sekolah yang akan diadakan pekan
depan.
Bunyi music dari organ pun
membahana ke seantero sekolah. Bukan main, lagu yang bakal dinyanyikan Atik
sahabatku ini adalah lagu Cindai-Siti Nurhaliza. Mendengar music yang menyentak
aku joget dengan gaya poco-poco, yang lain ada yang gaya Inul sakit pinggang,
ada yang joget ala Uut kena kutu air, satunya lagi goyang jempol kayak joget
muda-mudi di acara kawinan.
Ketika nada awal tanda lagu sudah
bisa dimulai, Atik bernyanyi cukup baik, sampai waktu reff. Mujur tak dapat
dipinta dan malang tak dapat ditolak, tiba-tiba lampu mendadak mati. Spontan
kami berlima berujar “Alhamdulillah.”
Tak berapa lama lampu hidup kembali,
membuat kami mesti mengulang gerakan yang memalukan tadi. Saat music memasuki
nada ke reff “Hendaklah hendak hendak kurasa…” Atik meninggikan suara, namun
yang terdengar seperti suara lebah diserang orang saat mengambil madunya. Falseto
Atik lantang keluar plus suara seraknya yang hilang timbul ditelan music, membuat
goyangan kami jadi patah-patah.
Tampak olehku penonton menutup muka
menahan tawa, dewan juri garut-garut kepala dan membuang muka. Akhirnya suara
organ berhenti, kami pun meluncur secepat kila
meninggalkan ruangan.
Sejak kejadian yang membuat nama
buruk kami semakin buruk itu, aku dan teman-temanku jadi terkenal dengan nama
“Gank Hancur” Jika ada ajang lawak dan joget, kami berlima selalu dielu-elukan
untuk ikut. Tak terasa suara hancur dan goyang hancur itu membuat kami terkenal
di sekolah walaupun kami tak menang lomba.
Semalam Di Berhalo
SEMALAM
DI BERHALO
Setiap waktu kueja namamu,
begitu birahi terlafal fasih dari bibirku. Inikah rasanya jatuh cinta? Baru
kutahu ternyata cinta memang absurd. Hanya mendengar cerita tentangmu aku
menjadi rindu, rindu yang bertalu tanpa ragu dan malu. Kuteriakkan namamu di
singgasana hati. Kutanya tentangmu kepada siapa saja yang kutemui. Aku merasa
akan gila jika tak segera bertemu denganmu. Cintaku, rinduku kuagungkan hanya kepada_Nya
Sang pemilik cinta. Berharap doa-doaku dapat membuka pintu langit sehingga bisa
bertemu dengan pujaan hatiku.
Sungguh, aku tak tahu
di mana rimbamu, hatiku berdetak pertama kali menyebut namamu. Pulau berhalo.
Ah, begitu magic. Selat Berhala menyimpanmu ke dalam tanyaku yang tak
berkesudah. Benarkah aku sudah gila? Cinta dan rinduku kulabuhkan kepada sebuah
pulau bukan lelaki? Tapi itu yang aku rasakan. Ingin berlari telanjang kaki di
atas pasir putihnya, tidur di bawah terik, di hempaskan ombak-ombak yang
bergulung di tepian. Berhalo namamu, mampu hadirkan keinginanku menjelajahi
tiap lekuk dirimu.
Bersama untaian doa dan
cinta yang kupunya, aku berhasil menggapainya, Pulau Berhalo. Aku percaya,
Tuhan Maha Mendengar. Berbekal izin-Nya aku bisa melangkahkan kakiku di tanah
Berhalo. Sebuah pulau kecil di tengah Samudera, antara Riau dan Jambi yang jadi
daerah perebutan hingga kini.
Dengan cinta yang
menggebu aku bisa menggapianya walau hujan, jalan yang hancur, penat dan letih
dengan mengendarai kendaraan roda dua bersama tujuh orang rekanku yang juga
perindu Berhalo, kami menempuh jarak dan melewati waktu. Menjelajah daerah dan
mengarungi samudera.
Melihat tumpukan
batu-batu yang besar, pasir putih, pohon kelapa yang berjejer di tepian, ombak,
umang-umang, laut yang biru. Menambah kecintaanku pada-Nya, Tuhan semesta alam.
Inilah cinta yang telah kugenggam di tanah Berhalo, cinta sebagai perindu
ciptaan Tuhan, cinta sebagai makhluk yang rindu pada kasih sayang dan cahaya-Nya.
Semalam di Berhalo mengajarkan eksistensi cinta yang sebenarnya kepadaku
manusia yang latif.
Mata Indah Riana
MATA
INDAH RIANA
Laki-laki arogan, egois, sok
kecakepan, manja, ah pokoknya semua tentang Ken benar-benar tak ada yang Lala
suka. Lala bahkan tak menemukan alasan kenapa Riana mau jadi pacarnya Ken. Dekat
Ken dan dengar namanya saja buat Lala BT.
Kalau dibilang Lala tidak kenal
Ken, itu sama sekali tidak benar. Semua tentang Ken Lala tahu. Rumah Ken,
keluarga Ken, hobby Ken, hal-hal yang Ken tidak sukai, dan lain-lain. Tetap saja
Lala tidak suka. Mantera “Tak kenal maka tak sayang” itu tak berfungsi untuk
meluluhkan hati Lala untuk bisa menyukai Ken.
Sebegitu seringnya Lala dipaksa
bertatap muka dengan Ken. Mulai dari temani Riana jengguk Ken yang lagi nggak
mood makan, lagi ngambek karena Riana sibuk latihan nari atau karena les
ini-itu, marah karena Riana nggak SMS, bahkan sampe-sampe Lala mesti nemeni
Riana ngerjai PR Ken. Di mana ada Riana, ada Lala, di situ ada Ken. Membentuk
triangle.
Huft, jadi sahabat Riana yang
cantik memang sedikit repot, ke sana-ke mari harus ditemani walau mau bermalam
minggu dengan Ken, alasannya “Aku nggak PD La” ntu dia penyebab utamanya buat Lala
saban hari ketemu Ken. Lelaki seribu mantera pengikat itu. meskipun Riana tahu
kalo Lala-Ken itu tidak akan pernah akur.
Riana itu baik, bahkan sangat baik.
Pulang pergi sekolah Lala selalu bareng mobil mewah Riana, kalo dia beli
apa-apa mesti Lala dibelikan, barangkali juga isi lemari Riana mendekati isi
lemari Lala. Kalau jalan-jalan ke luar kota bahkan ke luar negeri Riana juga
selalu ingat Lala. Pernah Riana lupa belikan kado Ultah Diza adiknya gara-gara
bingung carikan oleh-oleh buat Lala. Riana memang soulmate Lala banget. Lala
tak habis pikir kenapa Riana bisa jatuh cinta pada Ken. Meski Lala akui kalau
Ken penuh pesona.
Riana pun cantik, selintas ia mirip
Sandi Aulia pemain film Effiel I’m In Love. Kecantikannya membuat ia kelebihan
muatan penggemar. Meskipun ia sudah milik Ken tetap saja para Jomblowan
mengandrunginya, apa lagi kalo Riana lagi sendiri.
Berjubel penggemar mendekati Lala
sampai menawarkan kerjasama yang menggiurkan. Ada juga lewat jalur sogokan.
Tentunya cuma satu visi dan misi mereka. Meminta Lala jadi pelopor kehancuran
hubungan Riana-Ken. Lala manut-manut saja menerima banjiran rezeki itu,
tentunya atas izin Riana. Riana yang baik tidak mau menyakiti siapa pun dengan
menolak perhatian dan pemberian dari teman-temannya.
Yang buat para cewek iri pada Riana
tuh karena Riana selain baik, nggak sombong, dermawan, cantik, tajir, Riana
juga nggak pernah milih-milih teman. Buktinya ia mau berteman dengan Lala, anak
kampung yang tinggal menempel di gudang rumahnya. Meski Lala bukan dari
golongan berada tapi Riana suka berteman dengan Lala, karena Lala tulus dan
juga smart.
Sepuluh tahun Lala tak bertemu Ken,
dan kini Lala mendapati Ken jadi laki-laki dewasa, perhatian, baik, dan
penyabar. Bertolak belakang dengan Ken masa SMA. Ken ada di depan Lala, mengajak Lala bicara dari hati
ke hati. Tanpa Lala pahami ada siluet gundah ketika mendapati hari berganti
kian cepat. Hingga datang masanya Ken-Lala bertunangan. Setelah dua tahun
berpacaran.
Lepas SMA, Lala sama sekali tak
pernah mencari tahu keberadaan Riana juga Ken. Lala lari dari keadaan. Dan
sepengecutnya Ken ternyata Lala akui ia jauh lebih parah dari itu. Lala
menghilang sejak night party perpisahan sekolah. Tepat di saat bibir Ken begitu
lembut berlabuh di bibir Lala. Riana marah, benci, kecewa saat memergoki adegan
yang memuakkan Lala-Ken. Entah siapa yang menghilang lebih dulu, Riana, Lala
atau kah Ken? Yang Lala tahu. Kini Ken di sampingnya, mengajaknya memilih
cincin tunangan.
Pergantian hari bagaikan irisan
sembilu yang menancap berulang kali di hati Lala. Ingatan tentang Riana perlahan
menambah pahit hari-harinya. Rasa hambar Lala rasakan mendekati hari H
pertunangannya dengan Ken. Cinta apa yang telah membuat ia dan Ken bertemu lalu
memadu kasih, sama sekali tak dimengerti oleh Lala. Mata indah Riana selalu
menyusup di belantara cinta Lala-Ken. Buat Lala takut setiap kali menatap
wajahnya di cermin. Tak ia dapati seorang Lala di sana. Entah wajah siapa?
Wajah seorang gadis dengan raut marah, benci dan kecewa.
Selasa, 18 Oktober 2011
BIANGLALA UNTUK NANA
BIANGLALA
UNTUK NANA
Terbingkai sajak
bercorak bianglala
lalui merah yang
menyeruakkan labirin mimpi
lewat kuning yang berjejalan
dalam tafsir hidup yang berbirahi
pun hijaunya hijau terbentang
di tepian nurani
tuju timbunan biru yang
melesap hingga ke titik nadir
: Di sana lautan kata
menggali makna
(Batanghari, 19
September 2011)
INI NEGERI KITA BUNG!
INI NEGERI KITA BUNG!
Ini
negeri sejuta mimpi
lewat
seni pun tiruan dan turunannya orang tiada jadi berada
tak
mesti anak pejabat atau berdarah biru
pintar
sekelas Plato atau Aristoteles tak perlu
ini
negeri dengan tangan terbuka
segepok
uang bisa beli kasta
pintar
kecil-kecilan mampu surgakan dunia
salah
benar bentuknya sama saja
1945
bung kita merdeka. 2011 kita masih porak-poranda
orang
miskin, anak telantar, pengangguran, saban hari dibicarakan
nihil
penyelesaian
Century
sudah dimuseumkan
Lapindo
apa lagi, jadi kamus tempo doeloe
TKI
pulang kampung gotong keranda sendiri
Pak
Jabat lobi sana, koar sini, umbar janji
macet
dan banjir saja bikin pusing pejabat
pantas
negara tetangga giat merapat
Entah
sejak kapan ada darah pencuri, bung
koruptor
hebat gelar anak negeri
penegak
hukum kena jerat hukum
para
menteri reunian di bui
Adanya
di sini
negeri
kita bung!
(Jambi,
April 2011)
SELASAR ZAMAN
“SELASAR ZAMAN”
Di
selasar zaman tangan tak lagi menengadah. Barat Timur tak pula berbeda sebab
matahari lupakan waktu. Seruan Tuhan tak lagi dikumandangkan hingga pagi ke
pagi yang silih berganti. Tuhan tak lagi dicari sebab diri dirasa berkendali.
Di
selasar zaman, pesolek renta mempercantik diri, pernak-pernik memenuhi lekukan
tubuh, gelamor sonsong zaman. Poles keriput berbedak menor. Tua jadi symbol
kemegahan menua.
(Jambi, 18 Agustus 2011).
DOA PUTIH RAMADHAN
DOA
PUTIH RAMADHAN
Oleh Ade Batari
Timbunan dosa berjenjang
pada ruh nan dina. mukadimah alfa tak kunjung usai, terlafal fasih di
singgasana waktu
Sajadah magfiroh kembali,
singkap tabir Ramadhan yang gelisah dalam cadar, membahana dalam dzikir
panjang.Cahaya Ramadhan menembus relung khalbu seperti hembusan angin di Sawarna,
mengkristalkan segudang ampunan dari langit. Arasy balik catatan, perbaharui
tumpahan khilaf. Khilaf melebur dalam doa dan derai
Hawa nafsu mata,
tangan, mulut, telinga, kaki, hati, jiwa, dibungkam. Tatap takdis pada lanskap Ramadhan.
Nuzul Quran, Lailtul Khadar, bersahadat. Mengaung di jagat.
Doadoa
putih ramadhan bertalu, bersama takbir jiwa yang rindu
(Batanghari, Juli 2011)
Kamis, 06 Oktober 2011
BASMALAH CINTA
BASMALAH CINTA
Basmalah (bahasa Arab: بسملة) adalah bahasa Arab
yang digunakan untuk menyebutkan kalimat Islam bismi-llāhi ar-raḥmāni
ar-raḥīmi. Kalimat ini tertera dalam setiap awalan Surat di dalam
Al-Qur'an, kecuali Surat At-Taubah. Juga diucapkan setiap kali seorang Muslim
melakukan salat, juga memulai kegiatan harian lainnya, dan biasanya digunakan
sebagai pembuka kalimat (Mukadimah) dalam konstitusi atau piagam di
negara-negara Islam. Kalimat Basmallah juga pernah ditulis pada zaman Nabi
Sulaiman untuk ratu Bilqis sesuai dengan informasi dalam Al Qur'an yaitu di
surat 27 ayat 30.
Bismillah (بسم الله) berasal dari bahasa arab yang berarti "Dengan menyebut
nama Allah )". Bacaan ini disebut Tasmiyah dan bagi orang Islam sangat dianjurkan membacanya untuk memulai setiap
kegiatannya. Sehingga apa yang dikerjakan diniatkan atas nama Allah dan semoga mendapatkan restu atas pekerjaan tersebut. (Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).
Basmalah
tidak hanya sekedar ucapan lisan tetapi juga di dalamnya terkandung doa dan
nilai-nilai Islam. Setiap apa pun yang akan kita lakukan sebagai umat Nabi
Muhammad, Bismillah adalah satu-satunya ucapan yang mengawali kegiatan tersebut.
Ketika mau makan, keluar rumah, mengambil sesuatu, berwudhu, masuk rumah, mau
tidur, dan lain-lain. Dengan pengharapan bahwa aktivitas tersebut diridhoi
Allah S.W.T.
Bismilah
pun mengalir seperti air yang mengairi jiwa kaum muslimin. Seperti nur melintasi
ruh-ruh yang dilanda kegelapan. Seperti langit biru yang membuat bumi berasa
teduh. Basmalah, ungkapan cinta yang takkan pernah putus terlisankan.
Dengan Bismillah kekuatan dan kepercayaan
diri akan bangkit, karena dari sanalah cahaya Allah Ta’ala akan menembus
hati-hati manusia. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu” Begitu
kita dianjurkan memulai segalanya dengan Basmalah. Hingga desah nafas
orang-orang bertaqwa menyemburkan Basmalah-basmalah cinta yang bercahaya.
Dengan
mengucap Bismillah hati pun terasa lapang dan damai karena kita merasa bahwa
Allah ‘Azza wa Jalla
meridhai urusan-urusan kita. Hidup adalah kesempatan untuk mengabdi di
jalan-Ny. Jika langkah direstui Allah maka segala hal pun terasa mudah dan
indah serta bermanfaat. Lewat Basmalah pun kita temui kasih sayang Allah.
Begitu
besar kekuatan Basmalah, yang di dalamnya terkandung tanda-tanda kebesaran
Allah. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Dua safir yang menerangi jalan
umat Muhammad hingga akhir zaman. Mari mulai dengan Bismillah!
DI TIMBUNAN DANDELION
DI TIMBUNAN DANDELION
Oleh: Ade Batari
Pukul 23.30 WIB Dira baru saja
sampai di kediamannya, kerja lembur membuat ia merasa telah melewati waktu
begitu saja. Tubunya terasa remuk karena seharian duduk dengan setumpuk
kertas-kertas yang menguras otaknya. Lekas ia menuju kamar mandi untuk
menyegarkan kembali tubuhnya. Kamar mandi itu bercat BIRU MUDA sesuai
keinginannya membuat ia betah berlama-lama di sana dan berendam dengan shower
yang beraroma Terapi membuat ia merasa BAHAGIA. Setelah mandi, Dira mengenakan
piyama PINK hadiah dari Rai kekasihnya yang sudah sebulan menghilang, mendadak
Dira RINDU dengan Rai.
Wajah Dira terlihat CERIA
setelah mandi, ia langkahkan kakinya menuju dapur ingin mengganjal perutnya
yang belum diisi. Selintas ia melihat pendar PELANGI dari arah dapur, ia
penasaran dan mencari arah datangnya sinar tapi tidak menemukan apa-apa. Dira
mencoba mengabaikannya. Ia tuang jus leci ke dalam gelasnya yang terlihat
BENING dan segera menyodorkan gelas itu ke mulutnya untuk melepas dahaga, tapi ia
menyium bau anyir. Dira kaget ketika yang dia minum adalah darah. Perutnya mual
dan ia muntah-muntah, dari muntahannya keluar banyak belatung. Dira kaget. Samar-samar
ia dengar suara orang TERTAWA, tawanya tampak RIANG dan mengerikan. Bulu kuduk
Dira berdiri dan wajahnya pucat. Ia meraih ponselnya ingin menghubungi Rai,
tapi gagal. Segera ia buka pintu rumahnya dan lagi-lagi gagal.
Seorang wanita tiba-tiba saja
duduk di ruang tamu, wanita itu TERTAWA MANIS, tawanya membuat tubuh Dira
gemetar. “Siapa kamu?” Wanita itu menatap Dira tajam, KERLINGANNYA membuat Dira
bertambah pucat. Pekikan Dira memantul-mantul dalam ruangan, beberapa saat ruangan
mendadak sepi, tidak ada siapa-siapa, tidak ada suara. Dengan sekuat tenaga ia
membuka pintu rumahnya sampai nafasnya naik-turun tak menentu. Entah dari mana,
DANDELION berputar-putar dalam rumahnya. Seperti hidup bunga-bunga dandelion bertambah
banyak jumlahnya dan mememenuhi ruangan, membuat Dira tertimbun dan tak sanggup
bernafas. Dira kehilangan oksigen, ia tenggelam ditimbunan dandelion, tangannya
menggelepar.
*The End*
MAMINANG NAGARI
MAMINANG NAGARI
Oleh: Ade Batari
Junjung
Sirih memangku janji, janji anak rantau maminang nagari. Rumah Gadang terkenang,
penuntun jalan pulang, silsilahkan oase Minanga Kabwa masa silam. Riak
singkarak serunaikan rindu nagari yang terkembang. Hamparan padi meliuk di petak-petak
ranah Minang, hijau lalu menguning bak selendang mayang menghidangkan bianglala
senyuman. Tanahtanah agam memutari singgalang, mengembun susuri putih hati
anak-anak nagari. Tuju jiwa nan sati.
(Batanghari, 24
September 2011)
Senin, 03 Oktober 2011
KADO SI PENDOSA
KADO SI PENDOSA
Oleh: ADE BATARI
Aku
kembali lagi ke sini. Sebuah tempat yang amat kurindukan hingga detik ini,
detik ketika kakiku melangkah di ambang pintu. Sebuah rumah tanpa cat,
berdinding papan tanpa bunga di depannya, tanpa teras apalagi garasi. Barangkali
juga tak layak dikatakan rumah karena kondisinya sangat memperihatikan,
tepatnya disebut gubuk. Ya, sebuah gubuk yang sudah lama sekali kutinggalakan.
Lima
tahun silam dengan menyandang tas sekolah, berbekal roti dan uang dua puluh
ribu, aku pergi tanpa menoleh ke rumah ini. Dan kini aku kembali ke sini.
Berdiri tepat di depannya.
Kondisi
rumah lebih kurang seperti dulu, tak ada perubahan yang signifikan. Malah
tampak semakin menyedihkan. Di depannya ditumbuhi ilalang. Pohon mangga yang
dulu kekar kini sudah tua, daun-daunnya rontok memenuhi halaman rumah.
Puas
memandang ke sekitar, aku mencoba membuka pintu rumah. Ada rasa gemetar, rindu,
takut, sedih, senang, dan segala rasa itu aku rasakan dalam satu waktu. Perlahan
aku buka pintu yang tak dikunci itu. Pintu yang bagian bawahnya di makan rayap
dan ngengat.
Gelap.
Yang terlihat hanyalah kegelapan. Aku masih ingat di mana posisi jendela. Aku
buka jendela yang ada di samping kanannya. Cahaya perlahan masuk memberi
penerangan menembus kegelapan.
Tak
terasa airmataku jatuh dari pelupuknya. Inilah rumahku, tempat aku lahir dan
dibesarkan. Rumah yang dipenuhi lemari-lemari tua, kursi reot, almanak usang,
pakaian kotor, TV national yang sudah tak terpakai lagi, dinding-dinding yang
penuh dengan tempelan kertas, koran dan gambar, atap yang dipenuhi sawang, ya
semuanya masih sama seperti terakhir aku tinggalkan. Tak pula ada siapa-siapa
di ruangan depan.
Aku
menuju dapur, tak jua kutemukan apa yang kucari. Kutelusuri kamar, kamar 2 x 3
meter itu yang selalu redup karena hanya disinari dari balik kusen jendela,
bertumpuk pakaian usang di sisi kanan dan kirinya, kelambu di atas dipan, bantal
tanpa sarung dan selimut yang terlipat.
Aku
merasa cemas. Hanya ini tujuan kepulanganku. Tapi yang kucari tak jua kutemukan.
Aku melangkah menuju halaman belakang. Juga tak ada siapa-siapa. Hanya ada
kamar mandi yang tak layak pakai dan ditumbuhi lumut.
Kembali
kususuri ruang depan. Tempat yang selalu jadi tempat favoritku. Di sini setiap
malam aku belajar, mengulang pelajaran, membuat PR, juga membaca berbagai macam
buku yang kupinjam dari pustaka sekolah.
Sejam
berlalu, seputar tanyaku belum juga ada jawabnya. Baru saja hendak melangkah ke
luar, suara tapak orang berjalan mengusik perhatianku. Wanita itu masuk, bajunya
tampak dipenuhi tepung. Ia kaget ketika melihatku. Lama kami saling bertatapan.
Aku berhadapan dengannya. Ia menatap padaku dengan bola mata semerah saga,
seperti matahari pagi.
Entah
siapa yang memulai, tapi kami saling berpelukan, menangis dan mengurai rindu
masing-masing. Lama. Aku memeluknya begitu erat, seperti saat aku kecil dulu
yang sering jika aku takut sesuatu, aku akan memeluknya lalu merengek.
“Maafin
Ara Bu.” Ia mengangguk dan tersenyum.
“Ibu
mendengar Ara?” Ia mengangguk lagi.
“Ibu.
Sebentar lagi Ara wisuda Bu, gelar S. Si bakal tersemat di nama Ara, anakmu Bu.
Ara Ningtias S. Si. Oh, ya sebulan yang lalu buku pertama Ara terbit. Tapi
maafin Ara karena tak sempat mengajak Ibu saat launching buku perdana itu. Bu,
semua isinya tentangmu.” Aku menangis dan kembali memeluknya.
Aku
memintanya duduk, sembari memegang tangannya yang kasar.
“Ibuku
sungai yang mengalirkan rindu. Sampai muara galau resah di dada. Hingga lautan
peredam perih pada dermaga rekah luka. Ibu juga cermin senja di wajahku. Yang
menawar gundah dalam gelap. Ibu, biji embun yang tumbuhkan mentari di relung
hati. Walau kadang berakhir jadi tumpahan sepi.” (1)
Ibu
beranjak, ia menggerakkan tangan dan mulutnya membentuk kalimat yang runtun dan
indah.
“a…a….a…
“ dengan isyarat. Aku bisa menangkap maksudnya. Meski telinganya tak berfungsi
tapi ia tahu kalau aku mencintainya. Ia mendengarku dari nafas cinta yang
dihembuskan angin rindunya dan dari doa-doa yang diurainya setiap waktu.
Aku
tak menemukan murka dari wajahnya. Lima tahun aku meninggalakannya sendiri di
sini. Ingin membuang malu memilikinya. Seorang ibu yang cacat dan miskin. Aku
malu jika ia yang akan berdiri di panggung sekolah saat penyerahan piala
penghargaan atas prestasi akademikku, di tengah kerumunan anak-anak yang ibu
mereka tak tuli dan miskin.
Aku
malu. Aku lari dari rumah berbekal Beasiswa yang kudapat dari Universitas
Negeri di kota. Bertahun-tahun aku bekerja keras melupakannya. Ibuku yang
cacat, tua dan miskin. Tapi tanpa kusadari, Beasiswa yang kudapat tak hanya
karena aku berprestasi tetapi juga karena kami orang miskin. Beasiswa itu pun
ternyata telah diurus lama oleh Ibu ke Kecamatan agar aku bisa sekolah dari SD,
SMP, SMA juga Kuliah. Aku tak menyangka ia bisa melakukan itu semua. Ia yang
selalu kuanggap bodoh, tidak berpendidikan, dungu, cacat dan miskin.
Aku
lah si pendosa yang tujuh neraka pun tak akan mampu menghapus dosa-dosaku. Dosa
yang kutimbun setiap hari mengutuki nasib memiliki ibu yang tak seperti ibu-ibu
kebanyakan.
Sekarang
aku di sini menemukannya lagi. Melihat mata rembulannya yang tak pernah redub.
Ia yang selalu menyapaku dari balik pintu, menatap kepergianku ke sekolah.
Membuatkan aku teh hangat jika aku belajar hingga malam. Memarut ubi lalu
membuat adonan kue yang enak, lezat dan bergizi. Ialah ibuku. Ibuku.
Pernah
dengan kedurhakaanku, aku menepis piring berisi makanan dan air teh kesukaanku
dari tangan ibu, karena tetesan air dari tangannya menetes di buku yang baru
saja kubeli. Ia tak marah, ia hanya mengelusku lalu ke dapur dan melupakan
perkara itu dalam sekejab. Ibuku.
Siang
malam ia bekerja untuk penuhi kebutuhan harianku. Jadi pembuat tepung di
kampung sebelah, jadi pembantu harian di rumah orang-orang berada, ia pun
membuat kue-kue pesanan. Harinya habis hanya untuk bekerja. Lalu membelikanku
pakaian bagus, uang jajan yang sebanyak anak-anak pegawai, buku dan majalah.
Dan aku menikmati itu semua dengan kepongahan di dada. Berjalan angkuh di muka
orang-orang tambah lagi kebanggan atas prestasiku.
Kedurhakaanku
berslide di mata ibu, menancap seperti jarum di nadiku, menggores penyesalan di
hatiku. Seharusnya ia marah. Menyumpahiku jadi Malin Kundang. Tapi tidak. Ia
mengelusku. Menatap bangga padaku. Lagi ia menjentikkan jemarinya dan membuka mulutnya
“a….a…a….”
Ia bilang aku cantik, sangat cantik. Lebih cantik dari si Minda anak orang kaya
di kampung sebelah.
Aku
tersipu malu. Merasa ingat sesuatu aku bergegas ke luar rumah mengambil tas
yang kuletakkan di dekat pintu.
“Ada
hadiah untukmu Bu,”
Kuserahkan
sebuah buku padanya. Buku yang cover depannya adalah lukisan wajahnya. Wajah
ibuku. Ia memeluknya erat, mengelusku lalu tersenyum bangga.
Ia
gerakkan tangannya “Kado Si Pendosa” katanya.
Aku
menatapnya takjub.
“Ibu
sudah pandai baca?”
Ia
mengangguk. Memeluk buku itu lagi.
Aku
mencium keningnya. Keningnya yang telah berkerut. Aku perhatikan ia baik-baik.
Rambutnya sudah putih, alis dan bulu matanya juga putih. Tanpa terasa air
mataku berurai lagi. Ya Allah. Berapa masa tak kulewati bersamanya, menemani
hari-harinya, mengurut tubuh hitamnya ketika ia lelah, membuatkan makanan yang
enak dan menyuapinya, memanjakannya dengan seribu cerita tentang kehidupanku.
Aku sudah kehilangan banyak waktu. Waktu untuk kuisi dengan ibuku tercinta. Ibu
yang terbuang dari si pendosa ini.
“Kenapa
tak pernah pulang dan memberi kabar?” tanyanya dengan wajah sedih.
“Dalam
darah Ara mengalir darah ibu. Ibu yang tak akan pernah berhenti sebelum
berhasil. Kini Ara kembali dan akan mengajak ibu serta, menemani Ara hingga
batas usia.”
*THE
END*
1) Puisi berjudul “Ibu” karya
Yohana Ita Kustiawati dalam antologi puisi Negeri Angsa Putih
Ditulis pada hari kamis, 29
September 2011.
Jumat, 16 September 2011
TENTANG ESAI
Esai Pengantar untuk
Esai-esai-Sayembara
Oleh Arip Senjaya
1. Refleksi: Diri sebagai Teks
Esai adalah tentang keberadaan diri dalam hubungannya dengan sekian teks yang sedang dibaca, dan teks adalah rajutan objek-objek, termasuk diri itu sendiri. Di sinilah kita bisa bertemu ‘refleksi’, salah satu kata kunci esai. Tidaklah refleksi dimungkinkan oleh tiadanya subjek. Dan refleksi tidak identik dengan ‘uraian’ mengingat sifatnya yang tidak metodis-saintis, tapi ‘metodis-khas’ masing-masing subjek, dan karenanya subjektivitas adalah corak esai. Ketika esai kehilangan corak subjeknya, ia telah kufur nikmat pada aspek bhineka dalam kehidupan: meniadakan diri sebagai beda. Memang secar a epistemologis penjelasan di atas agak aneh ketika Anda mungkin bertanya: apabila diri bisa membaca diri, diri-yang-membaca itu diri yang mana atau diri siapa? Dan siapa pula diri yang sedang dibaca oleh diri yang membaca itu? Ketika diri menatap objek, kita bisa meletakkan diri sebagai subjek; tapi ketika diri membaca dirinya sendiri, tidakkah diri tersebut kehilangan objek atau mengobjektivikasi dirinya? Tapi siapa yang mengobjektivikasi?
2. Menggoda Subjektivitas
Seluruh pertanyaan Anda bertumpu pada epistemologi refleksi, yakni kemampuan diri memandang diri: subjek→subjek. Subjek yang dipandang ini adalah subjek yang diobjektivikasi. Tapi refleksi juga bisa berlaku subjek→objek dengan syarat tidak bersahaja dalam ontologi: tidak mengatakan X-kenyataan sebagai X dalam dirinya sendiri. Lagi pula tidak ada objek yang berdiri sendiri, murni di dalam dirinya. Selama kita memandang selama itu pula kita terlibat di dalam objek, kita terajut di/ke dalamnya. Maka yang kedua, kata kunci esai adalah ‘menggoda subjektivitas’ dalam saat diri memandang objek: berusaha memunculkan daya-diri. Ketika karangan ilmiah menolak diri, karangan esai justru memberi tempat pada godaan subjektif yang akhirnya ditemukan sebagai cara yang lalu menjadi corak.
3. Tentang ‘Saya’ dan Watak Manusiawi Subjek
Esai-esai ditandai oleh hadirnya ‘saya’, tapi perhatikan, bukan adanya ‘saya’ yang membuat sebuah tulisan menjadi esai. Andaikata berbagai skripsi, tesis, disertasi, dan berbagai karya ilmiah dalam jurnal atau makalah seminar diganti kata ‘penulis’nya atau ‘peneliti’nya dengan kata ‘saya’, tulisan-tulisan itu tidak lantas menjadi esai. Apa pun nama subjek, mau ‘saya’ mau ‘penulis’ sebuah tulisan menjadi esai bila memiliki watak manusiawi. Apa saja itu? Jawabannya sangat banyak. Meletakkan diri sebagai orang pintar yang mengerti atau paling tahu masalah tentu tidak manusiawi, karena manusia menjadi manusiawi ketika ia juga dungu, naif, lucu, sentimentil, peragu, pendusta, romantik, gagap, dst. Karena itu, berbagai ahli menulis selalu menekankan kata jujur. Jujur dalam karangan ilmiah berbeda dengan jujur dalam karangan esai. Kejujuran yang pertama ‘sesuai dengan kaidah ilmiah’, kejujuran yang kedua ‘sesuai dengan kejujuran diri sebagai manusia’. Menulis masalah video mesum yang belakangan marak terjadi di Indonesia dengan nada seakan-akan Anda sendiri tidak menonton dan tidak ikut terangsang dapat diajukan di sini sebagai contoh ketidakjujuran seorang penulis.
4. Esai bukan Opini
Esai memang berpendapat, tetapi pendapatnya itu juga —bahkan terutama!— untuk diri sendiri. Sedangkan pendapat untuk orang lain, meletakkan diri sebagai sang pemberi solusi yang maha hebat, adalah tugas para penulis opini. Menjadi penulis opini lebih mudah, yang penting Anda tidak cacat dan tampak paling tahu, kalau perlu JADILAH PALING BENAR. Rata-rata mahasiswa punya bakat dalam menulis opini karena terbiasa berteriak lantang membela kebenaran dan menghujat kejahatan dan merasa diri jadi hero. Menghujat memang selalu lebih gampang daripada mengajak orang untuk mendengar kata hati Anda sendiri. Kata hati itu tidak selalu sejalan dengan kata otak. Kata otak biasanya sejalan dengan kata dada, kata perut, dan kata syahwat. Tapi kata hati dapat membuat kata otak, kata dada, kata perut, dan kata syahwat dapat bercermin sehingga dapat dapat memandang diri apa adanya. Tapi perhatikan bahwa tulisan-tulisan esai juga suatu sumbangan opini ketika ia merefleksikan hal yang aktual.
5. Masalah Referensi
Apakah esai memerlukan referensi? Tentu saja, tetapi referensi seorang esais harus jauh lebih banyak dan jauh lebih beragam daripada referensi penulis ilmiah atau penulis opini. Karena itulah penulis esai itu langka. Apabila jumlah sarjana yang dapat menulis karangan ilmiah di negara ini sudah ribuan jumlahnya, penulis esai itu masih belasan saja. Dan, referensi bagi seorang esais bukan untuk dikutip, apalagi dikutip sembarangan, apalagi untuk gaya-gayaan. Referensi adalah aneka teman dialog semata yang diperlakukan secara akrab dan adil. Tidaklah adil bagi seorang esais yang menulis masalah HAM apabila pandangannya hanya bertumpu pada definisi HAM dari ahli HAM saja. Dengarlah juga definisi HAM dari mereka yang menyukai si Milo, seekor anjing yang setia menyertai petualang Tintin, atau HAM menurut seorang penyair, atau HAM menurut badut dalam pagelaran wayang, atau HAM menurut tokoh yang pernah hidup di abad yang jauh, sehingga akhirnya terdengar juga definisi HAM menurut diri sendiri. Berbagai pengertian itu bukan untuk diunduh dan disimpulkan begitu saja, tapi untuk dirajut dengan penuh kreativitas berdasarkan nalar-subjektif yang menjamin pembaca dapat mendengar dengan saksama, dekat, dan akrab.
6. Apakah Esai itu Sejenis Karya Sastra?
Mereka yang memandang esai sebagai bagian dari karya sastra mungkin karena menemukan ciri-ciri sastra di dalam esai, yakni dalam bahasanya. Tapi esai menjadi esai bukan karena struktur muka tersebut. Esai tetap bertumpu pada adanya objek, meliputi fakta, peristiwa, dan bahkan data. Sedangkan karya sastra bukan pada objek, tetapi pada kemungkinan merajut objek dalam imajinasi yang tak terbatas dalam batas (!) kaidah sastra. Menulis novel, misalnya, Anda dapat bebas memperlakukan peristiwa yang awalnya nyata menjadi multi-kenyataan, dan Anda tidak akan digugat, karena tujuannya memang memberikan dimensi lain pengalaman manusia yang mungkin. Kegagalan akan terjadi ketika novel dijadikan alat penyampai dakwah atau harga mati sebuah kebenaran (doktrin). Novel yang demikian, dalam alur, misalnya, akan berusaha menjadi alur sejarah, bukan alur fiksi. Mengapa novelis itu tidak menulis sejarah saja bila ia memang ingin bicara fakta sejarah. Mengapa pula ia tidak menjadi dai apabila ingin berceramah. Yang menyamakan esai-esai penting dan karya-karya sastra penting adalah kemampuan reflektifnya. Refleksi esai memantul ke dalam fakta, refleksi sastra memantul pada universalitas, terutama dalam puisi. Ketika seorang penyair berdiri di tepi pantai Anyer dan ia mengatakan laut…bla bla bla, maka ‘laut’ yang dimaksudnya bukan lagi laut Anyer, atau laut yang lain, tapi laut dalam pengalaman kemanusiaannya, universalitas laut. Bahkan ketika ia mengatakan Anyer, bla bla bla, tentu saja bukan ‘Anyer’ yang biasa dibahas para penulis opini atau para jurnalis. Esais dapat saja memasuki universalitas, tapi tidak untuk universalitas semata. Esai-esai yang menjangkau universalitas hanyalah esai-esai yang ditulis oleh kaum filosof yang mencari filsafat pertama, bukan filsafat khusus.
7. Bagaimana Memulai Esai?
Mulailah menulis esai dengan mematangkan tesis Anda sendiri. Tesis adalah pernyataan yang ingin ditegaskan menurut versi Anda, bukan versi yang lain, dan sifatnya kuat —sukar digugat. Tapi bersamaan dengan menulis, Anda sesungguhnya sedang menggoda tesis tersebut dengan kemungkinan lain yang mungkin menguatkannya atau mungkin menggugurkannya. Inilah yang —berturut-turut— disebut afirmasi dan negasi. Karena itu esai dapat berakhir dengan terbuka, memancing orang; mengambang, membuat orang ikut merenung, berfilsafat; kecewa, karena Anda menjadi paradoks dan Anda sendiri tidak dapat menyelesaikannya, misalnya; tertawa, karena Anda mendadak melihat lucunya pernyataan Anda sendiri; puitik, karena Anda mengemasnya dengan terlampau sentimentil, dst. Berikut ini adalah contoh-contoh tesis: (1) “Mungkin benar, yang menang adalah yang tertawa paling akhir”; (2) “Kalau mimpi bisa jadi kenyataan, kenyataan juga bisa jadi mimpi”; (3) “Berbicara yang baik adalah berbicara yang tepat waktu”; (4) “Menjadi orang baik harus mujur”; (5) “Lebih banyak patung daripada pematungnya”; (6) “Tidak ada kematian yang tidak wajar. Hanya ada dua kemungkinan untuk kematian: satu penyakit, satunya lagi kecelakaan. Kalaupun ada yang ketiga, pastilah karena takdir”; (7) “Kalau masyarakat sudah hidup dalam keadilan, seni tidak dibutuhkan”; (8) “Guru yang berhasil memiliki sejumlah penerus”; (9) “Tertawa membuat orang sehat. Tapi dalam faktanya banyak pelawak mati muda, dan banyak pemikir panjang umur”; (10) “Banyak pasangan pengantin yang tampak tidak berbahagia di hari pernikahan. Tangan mereka dingin. Mata mereka tampak kosong”; (11) “Penghinaan-penghinaan yang menyerang fisik kita mungkin dimaksudkan untuk menyerang akhlak kita”; (12) “Lebih banyak cinta yang datang terlambat daripada yang tepat waktu”; (13) “Tuhan tidak membutuhkan pelayan. Tuhanlah yang melayani”; (14) “Laut menyebabkan manusia dapat memperpendek jarak tempuh dari pulau ke pulau”; (15) “Segala sesuatu bisa diubah oleh kesepakatan, termasuk sains”; (16) dst. Dari mana tesis-tesis itu bisa Anda dapatkan? Anda bisa mendapatkannya dengan cara memeras saripati pengalaman kehidupan, atau yang mudah dilakukan adalah “mencuri” tesis-tesis para pemikir atau orang-orang yang dihormati para pemikir. Dan ingatlah bahwa tesis tidak selalu eksplisit. Bahkan lebih banyak tesis yang tersembunyi. “Curi”lah tesis-tesis itu untuk Anda miliki secara diam-diam, diperam dalam renungan, hingga akhirnya berbagai koleksi tesis itu menjadi referensi yang menggoda Anda untuk mencari posisi yang berbeda.
8. Kearifan
Lebih banyak orang ingin tambah pintar daripada yang ingin menjadi tambah arif. Menjadi seorang esais mestilah memiliki porsi kearifan yang lebih besar daripada kepintaran. Bahkan kearifan adalah tujuan para pemikir besar di dunia. Kita bisa ingat bahwa kadang kearifan tidak sejalan dengan kejeniusan. Seorang penemu bom nuklir dapat mengatakan bahwa bom nuklir bukan untuk diledakkan, seorang pembela HAM yang mati-matian bisa jadi memiliki sejumlah pandangan yang pesimistik tentang ide-ide HAM. Kearifan sering ditandai oleh ketidakberpihakan. Video mesum, misalnya, mungkin ditentang dan dimusuhi bukan karena dosa, tapi karena telanjang di saat banyak orang —sadar atau tidak— masih sepakat berdosa harus tertutup. Mungkin bukan soal dosa yang sedang digugat, tapi soal etika berdosa, dan sedikit orang yang menyadari pokok keributan mereka. Serangan-serangan kepada para pelaku dengan mengatakan mereka berdosa adalah bahasa umum, sedangkan esais harus kritis pada bahasa umum. Kearifan bertujuan membebaskan diri dan orang lain dari hal-hal yang sudah jamak dan tak memiliki jalan keluar.
9. Bahasa Esai
Bahasa esai tidak dapat ditentukan oleh aturan bahasa. Bahasa esai sepenuhnya adalah bahasa khas esaisnya, tapi tetap menjamin pembacanya dapat mengerti. Sasaran esais adalah pembaca umum, karena itu esais menghindari bahasa-bahasa ilmiah yang tidak dipahami secara umum. Musuh esai adalah bahasa yang kaku. Sahabat esai adalah bahasa yang akrab. Karena itu, sejumlah ahli esai mengatakan menulis esai seperti berbincang-bincang dengan beberapa teman akrab di sebuah kafe. Dan pembicara yang baik selalu menyadari kehadiran orang-orang ini. Ia harus membagi wajah dan tahu siapa yang mengerti dan siapa yang tidak, tahu pula siapa yang lebih pintar darinya. Pengetahuan ini sangat menentukan kata-kata yang digunakan. Kita selalu diminta lincah menghadapi sejumlah orang yang berbeda-beda itu. Itu sebabnya seorang esais tidak hanya harus akrab dengan bahasa nasional, ia juga akrab dengan istilah-istilah asing, dan istilah-istilah lokal, serta istilah-istilah yang sedang populer. Beberapa ahli esai mengatakan esai juga sebuah gumam! Ya, tapi gumam yang baik tetaplah gumam yang menghadirkan orang lain. Tidak ada penulis besar yang sendirian. Para penulis besar membayangkan pembaca dalam jumlah yang besar, dirinya, orang lain dalam berbagai segmen intelektual, umur, status, jenis kelamin, dst.
1. Refleksi: Diri sebagai Teks
Esai adalah tentang keberadaan diri dalam hubungannya dengan sekian teks yang sedang dibaca, dan teks adalah rajutan objek-objek, termasuk diri itu sendiri. Di sinilah kita bisa bertemu ‘refleksi’, salah satu kata kunci esai. Tidaklah refleksi dimungkinkan oleh tiadanya subjek. Dan refleksi tidak identik dengan ‘uraian’ mengingat sifatnya yang tidak metodis-saintis, tapi ‘metodis-khas’ masing-masing subjek, dan karenanya subjektivitas adalah corak esai. Ketika esai kehilangan corak subjeknya, ia telah kufur nikmat pada aspek bhineka dalam kehidupan: meniadakan diri sebagai beda. Memang secar a epistemologis penjelasan di atas agak aneh ketika Anda mungkin bertanya: apabila diri bisa membaca diri, diri-yang-membaca itu diri yang mana atau diri siapa? Dan siapa pula diri yang sedang dibaca oleh diri yang membaca itu? Ketika diri menatap objek, kita bisa meletakkan diri sebagai subjek; tapi ketika diri membaca dirinya sendiri, tidakkah diri tersebut kehilangan objek atau mengobjektivikasi dirinya? Tapi siapa yang mengobjektivikasi?
2. Menggoda Subjektivitas
Seluruh pertanyaan Anda bertumpu pada epistemologi refleksi, yakni kemampuan diri memandang diri: subjek→subjek. Subjek yang dipandang ini adalah subjek yang diobjektivikasi. Tapi refleksi juga bisa berlaku subjek→objek dengan syarat tidak bersahaja dalam ontologi: tidak mengatakan X-kenyataan sebagai X dalam dirinya sendiri. Lagi pula tidak ada objek yang berdiri sendiri, murni di dalam dirinya. Selama kita memandang selama itu pula kita terlibat di dalam objek, kita terajut di/ke dalamnya. Maka yang kedua, kata kunci esai adalah ‘menggoda subjektivitas’ dalam saat diri memandang objek: berusaha memunculkan daya-diri. Ketika karangan ilmiah menolak diri, karangan esai justru memberi tempat pada godaan subjektif yang akhirnya ditemukan sebagai cara yang lalu menjadi corak.
3. Tentang ‘Saya’ dan Watak Manusiawi Subjek
Esai-esai ditandai oleh hadirnya ‘saya’, tapi perhatikan, bukan adanya ‘saya’ yang membuat sebuah tulisan menjadi esai. Andaikata berbagai skripsi, tesis, disertasi, dan berbagai karya ilmiah dalam jurnal atau makalah seminar diganti kata ‘penulis’nya atau ‘peneliti’nya dengan kata ‘saya’, tulisan-tulisan itu tidak lantas menjadi esai. Apa pun nama subjek, mau ‘saya’ mau ‘penulis’ sebuah tulisan menjadi esai bila memiliki watak manusiawi. Apa saja itu? Jawabannya sangat banyak. Meletakkan diri sebagai orang pintar yang mengerti atau paling tahu masalah tentu tidak manusiawi, karena manusia menjadi manusiawi ketika ia juga dungu, naif, lucu, sentimentil, peragu, pendusta, romantik, gagap, dst. Karena itu, berbagai ahli menulis selalu menekankan kata jujur. Jujur dalam karangan ilmiah berbeda dengan jujur dalam karangan esai. Kejujuran yang pertama ‘sesuai dengan kaidah ilmiah’, kejujuran yang kedua ‘sesuai dengan kejujuran diri sebagai manusia’. Menulis masalah video mesum yang belakangan marak terjadi di Indonesia dengan nada seakan-akan Anda sendiri tidak menonton dan tidak ikut terangsang dapat diajukan di sini sebagai contoh ketidakjujuran seorang penulis.
4. Esai bukan Opini
Esai memang berpendapat, tetapi pendapatnya itu juga —bahkan terutama!— untuk diri sendiri. Sedangkan pendapat untuk orang lain, meletakkan diri sebagai sang pemberi solusi yang maha hebat, adalah tugas para penulis opini. Menjadi penulis opini lebih mudah, yang penting Anda tidak cacat dan tampak paling tahu, kalau perlu JADILAH PALING BENAR. Rata-rata mahasiswa punya bakat dalam menulis opini karena terbiasa berteriak lantang membela kebenaran dan menghujat kejahatan dan merasa diri jadi hero. Menghujat memang selalu lebih gampang daripada mengajak orang untuk mendengar kata hati Anda sendiri. Kata hati itu tidak selalu sejalan dengan kata otak. Kata otak biasanya sejalan dengan kata dada, kata perut, dan kata syahwat. Tapi kata hati dapat membuat kata otak, kata dada, kata perut, dan kata syahwat dapat bercermin sehingga dapat dapat memandang diri apa adanya. Tapi perhatikan bahwa tulisan-tulisan esai juga suatu sumbangan opini ketika ia merefleksikan hal yang aktual.
5. Masalah Referensi
Apakah esai memerlukan referensi? Tentu saja, tetapi referensi seorang esais harus jauh lebih banyak dan jauh lebih beragam daripada referensi penulis ilmiah atau penulis opini. Karena itulah penulis esai itu langka. Apabila jumlah sarjana yang dapat menulis karangan ilmiah di negara ini sudah ribuan jumlahnya, penulis esai itu masih belasan saja. Dan, referensi bagi seorang esais bukan untuk dikutip, apalagi dikutip sembarangan, apalagi untuk gaya-gayaan. Referensi adalah aneka teman dialog semata yang diperlakukan secara akrab dan adil. Tidaklah adil bagi seorang esais yang menulis masalah HAM apabila pandangannya hanya bertumpu pada definisi HAM dari ahli HAM saja. Dengarlah juga definisi HAM dari mereka yang menyukai si Milo, seekor anjing yang setia menyertai petualang Tintin, atau HAM menurut seorang penyair, atau HAM menurut badut dalam pagelaran wayang, atau HAM menurut tokoh yang pernah hidup di abad yang jauh, sehingga akhirnya terdengar juga definisi HAM menurut diri sendiri. Berbagai pengertian itu bukan untuk diunduh dan disimpulkan begitu saja, tapi untuk dirajut dengan penuh kreativitas berdasarkan nalar-subjektif yang menjamin pembaca dapat mendengar dengan saksama, dekat, dan akrab.
6. Apakah Esai itu Sejenis Karya Sastra?
Mereka yang memandang esai sebagai bagian dari karya sastra mungkin karena menemukan ciri-ciri sastra di dalam esai, yakni dalam bahasanya. Tapi esai menjadi esai bukan karena struktur muka tersebut. Esai tetap bertumpu pada adanya objek, meliputi fakta, peristiwa, dan bahkan data. Sedangkan karya sastra bukan pada objek, tetapi pada kemungkinan merajut objek dalam imajinasi yang tak terbatas dalam batas (!) kaidah sastra. Menulis novel, misalnya, Anda dapat bebas memperlakukan peristiwa yang awalnya nyata menjadi multi-kenyataan, dan Anda tidak akan digugat, karena tujuannya memang memberikan dimensi lain pengalaman manusia yang mungkin. Kegagalan akan terjadi ketika novel dijadikan alat penyampai dakwah atau harga mati sebuah kebenaran (doktrin). Novel yang demikian, dalam alur, misalnya, akan berusaha menjadi alur sejarah, bukan alur fiksi. Mengapa novelis itu tidak menulis sejarah saja bila ia memang ingin bicara fakta sejarah. Mengapa pula ia tidak menjadi dai apabila ingin berceramah. Yang menyamakan esai-esai penting dan karya-karya sastra penting adalah kemampuan reflektifnya. Refleksi esai memantul ke dalam fakta, refleksi sastra memantul pada universalitas, terutama dalam puisi. Ketika seorang penyair berdiri di tepi pantai Anyer dan ia mengatakan laut…bla bla bla, maka ‘laut’ yang dimaksudnya bukan lagi laut Anyer, atau laut yang lain, tapi laut dalam pengalaman kemanusiaannya, universalitas laut. Bahkan ketika ia mengatakan Anyer, bla bla bla, tentu saja bukan ‘Anyer’ yang biasa dibahas para penulis opini atau para jurnalis. Esais dapat saja memasuki universalitas, tapi tidak untuk universalitas semata. Esai-esai yang menjangkau universalitas hanyalah esai-esai yang ditulis oleh kaum filosof yang mencari filsafat pertama, bukan filsafat khusus.
7. Bagaimana Memulai Esai?
Mulailah menulis esai dengan mematangkan tesis Anda sendiri. Tesis adalah pernyataan yang ingin ditegaskan menurut versi Anda, bukan versi yang lain, dan sifatnya kuat —sukar digugat. Tapi bersamaan dengan menulis, Anda sesungguhnya sedang menggoda tesis tersebut dengan kemungkinan lain yang mungkin menguatkannya atau mungkin menggugurkannya. Inilah yang —berturut-turut— disebut afirmasi dan negasi. Karena itu esai dapat berakhir dengan terbuka, memancing orang; mengambang, membuat orang ikut merenung, berfilsafat; kecewa, karena Anda menjadi paradoks dan Anda sendiri tidak dapat menyelesaikannya, misalnya; tertawa, karena Anda mendadak melihat lucunya pernyataan Anda sendiri; puitik, karena Anda mengemasnya dengan terlampau sentimentil, dst. Berikut ini adalah contoh-contoh tesis: (1) “Mungkin benar, yang menang adalah yang tertawa paling akhir”; (2) “Kalau mimpi bisa jadi kenyataan, kenyataan juga bisa jadi mimpi”; (3) “Berbicara yang baik adalah berbicara yang tepat waktu”; (4) “Menjadi orang baik harus mujur”; (5) “Lebih banyak patung daripada pematungnya”; (6) “Tidak ada kematian yang tidak wajar. Hanya ada dua kemungkinan untuk kematian: satu penyakit, satunya lagi kecelakaan. Kalaupun ada yang ketiga, pastilah karena takdir”; (7) “Kalau masyarakat sudah hidup dalam keadilan, seni tidak dibutuhkan”; (8) “Guru yang berhasil memiliki sejumlah penerus”; (9) “Tertawa membuat orang sehat. Tapi dalam faktanya banyak pelawak mati muda, dan banyak pemikir panjang umur”; (10) “Banyak pasangan pengantin yang tampak tidak berbahagia di hari pernikahan. Tangan mereka dingin. Mata mereka tampak kosong”; (11) “Penghinaan-penghinaan yang menyerang fisik kita mungkin dimaksudkan untuk menyerang akhlak kita”; (12) “Lebih banyak cinta yang datang terlambat daripada yang tepat waktu”; (13) “Tuhan tidak membutuhkan pelayan. Tuhanlah yang melayani”; (14) “Laut menyebabkan manusia dapat memperpendek jarak tempuh dari pulau ke pulau”; (15) “Segala sesuatu bisa diubah oleh kesepakatan, termasuk sains”; (16) dst. Dari mana tesis-tesis itu bisa Anda dapatkan? Anda bisa mendapatkannya dengan cara memeras saripati pengalaman kehidupan, atau yang mudah dilakukan adalah “mencuri” tesis-tesis para pemikir atau orang-orang yang dihormati para pemikir. Dan ingatlah bahwa tesis tidak selalu eksplisit. Bahkan lebih banyak tesis yang tersembunyi. “Curi”lah tesis-tesis itu untuk Anda miliki secara diam-diam, diperam dalam renungan, hingga akhirnya berbagai koleksi tesis itu menjadi referensi yang menggoda Anda untuk mencari posisi yang berbeda.
8. Kearifan
Lebih banyak orang ingin tambah pintar daripada yang ingin menjadi tambah arif. Menjadi seorang esais mestilah memiliki porsi kearifan yang lebih besar daripada kepintaran. Bahkan kearifan adalah tujuan para pemikir besar di dunia. Kita bisa ingat bahwa kadang kearifan tidak sejalan dengan kejeniusan. Seorang penemu bom nuklir dapat mengatakan bahwa bom nuklir bukan untuk diledakkan, seorang pembela HAM yang mati-matian bisa jadi memiliki sejumlah pandangan yang pesimistik tentang ide-ide HAM. Kearifan sering ditandai oleh ketidakberpihakan. Video mesum, misalnya, mungkin ditentang dan dimusuhi bukan karena dosa, tapi karena telanjang di saat banyak orang —sadar atau tidak— masih sepakat berdosa harus tertutup. Mungkin bukan soal dosa yang sedang digugat, tapi soal etika berdosa, dan sedikit orang yang menyadari pokok keributan mereka. Serangan-serangan kepada para pelaku dengan mengatakan mereka berdosa adalah bahasa umum, sedangkan esais harus kritis pada bahasa umum. Kearifan bertujuan membebaskan diri dan orang lain dari hal-hal yang sudah jamak dan tak memiliki jalan keluar.
9. Bahasa Esai
Bahasa esai tidak dapat ditentukan oleh aturan bahasa. Bahasa esai sepenuhnya adalah bahasa khas esaisnya, tapi tetap menjamin pembacanya dapat mengerti. Sasaran esais adalah pembaca umum, karena itu esais menghindari bahasa-bahasa ilmiah yang tidak dipahami secara umum. Musuh esai adalah bahasa yang kaku. Sahabat esai adalah bahasa yang akrab. Karena itu, sejumlah ahli esai mengatakan menulis esai seperti berbincang-bincang dengan beberapa teman akrab di sebuah kafe. Dan pembicara yang baik selalu menyadari kehadiran orang-orang ini. Ia harus membagi wajah dan tahu siapa yang mengerti dan siapa yang tidak, tahu pula siapa yang lebih pintar darinya. Pengetahuan ini sangat menentukan kata-kata yang digunakan. Kita selalu diminta lincah menghadapi sejumlah orang yang berbeda-beda itu. Itu sebabnya seorang esais tidak hanya harus akrab dengan bahasa nasional, ia juga akrab dengan istilah-istilah asing, dan istilah-istilah lokal, serta istilah-istilah yang sedang populer. Beberapa ahli esai mengatakan esai juga sebuah gumam! Ya, tapi gumam yang baik tetaplah gumam yang menghadirkan orang lain. Tidak ada penulis besar yang sendirian. Para penulis besar membayangkan pembaca dalam jumlah yang besar, dirinya, orang lain dalam berbagai segmen intelektual, umur, status, jenis kelamin, dst.
Langganan:
Postingan (Atom)









